Memang tidak dapat dipungkiri bahwa Pendidikan merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan ini. Dengan adanya pendidikan, seseorang yang pada awalnya tidak mengetahui sesuatu, menjadi tahu. Contohnya saja orang yang tidak tahu membaca dan menulis, dengan pendidikan yang dikecamnya dia akan mengethui segalanya. Seperti di dalam ayat Al-Quran disebutkan "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan", dan disebuah hadist Nabi menyebutkan "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat". Dari ayat dan hadist di atas sudah jelas bahwa kita sudah seharusnya mendapat pendidikan yang bagus. Tanpa adanya pendidikan, suatu negara pasti akan mengalami kemunduran atau keterbelakangan.
Kini mari kita mengetahui dahulu apa makna pendidikan itu dan kapan seseorang mulai mendapatkannya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu : memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.
Dari pengertian-pengertian dan analisis yang ada maka bisa disimpulkan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun anak sejak lahir untuk mencapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam interaksi alam beserta lingkungannya. Adapun seseorang mendapatkan pendidikan itu dari sejak ia lahir sampai ia dewasa. Ketika lahir, ia mendapatkan pendidikan dari kedua orang tuanya. Inilah pendidikan yang sangat utama. Karena disinilah ia mulai mendapatkan hal-hal atau pengetahuan dari apa-apa yang didengar, dilihat dan dicontohnya. Selanjutnya adalah pendidikan formal, yaitu pendidikan sekolah; mulai dari TK,SD, SMP, SMA hingga lulus perguruan tinggi. Nah pendidikan inilah yang ingin kita bahas kali ini, terutama pendidikan di Indonesia ini. Ada juga nanti pendidikan di masyarakat.
Sekarang mari kita coba telaah tentang bagaimana Pendidikan di Indonesia kita tercinta ini. Pendidikan Indonesia saat ini sangat mengkhawatirkan. Dengan hilangnya makna pendidikan di negeri ini. Anak-anak berbondong-bondong datang ke institusi pendidikan, hanya sekedar menggugurkan kewajiban anak kepada orang tuanya saja. Hingga akhirnya sesampainya mereka di sekolah alih-alih mereka meraup ilmu yang ada, malah mereka lebih banyak tertidur di dalam kelas, bermimpi dan memimpikan hal yang tidak pasti. Tak aneh saat sekolah-sekolah hari ini begitu banyak menghasilkan lulusan-lulusan yang kehilangan orientasi hidupnya. Atau orangtua, yang menjadikan pendidikan sebagai ajang berbangga-bangga diri kepada teman-teman atau tetangga yang lain serta sanak saudaranya. Kemudian pendidikan di Indonesia selalu gembar-gembor tentang kurikulum baru.Yang katanya lebih bagus, lebih tepat sasaran, lebih kebarat-baratan atau apapun. Yang jelas, Menteri Pendidikan berusaha eksis dengan mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum. Agak miris lihat kondisi saat ini. Institusi pendidikan tidak ubahnya seperti pencetak mesin ijazah. Agar laku, sebagian memberikan iming-iming : lulus cepat, status disetarakan, dapat ijazah, absen longgar wa ‘ala alihi. Apa yang bisa diharapkan dari pendidikan kering idealisme seperti itu. Ki Hajar Dewantoro mungkin bisa menangis melihat kondisi pendidikan saat ini. Bukan lagi bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa (seperti yang masih tertulis di UUD 45), tapi lebih mirip mesin usang yang mengeluarkan produk yang sulit diandalkan kualitasnya. Pendidikan lebih diarahkan pada menyiapkan tenaga kerja "buruh" saat ini. Apalagi dengan pengoptimalan pada SMK. Bukan lagi pemikir-pemikir handal yang siap menganalisa kondisi. Karena pola pikir "buruh"lah, segala macam hapalan dijejalkan kepada anak murid. Dan semuanya hanya demi satu kata: IJAZAH! ya, ijazah, ijazah, ijazah yang diperlukan untuk mencari pekerjaan. sangat minim pula dalam mengajarkan moral.
Sementara di berbagai daerah, pendidikan pun masih berada dalam kondisi keprihatinan. Mulai dari kekurangan tenaga pengajar, fasilitas pendidikan hingga sukarnya masyarakat untuk mengikuti pendidikan karena permasalahan ekonomi dan kebutuhan hidup. Pada beberapa wilayah, anak-anak yang memiliki keinginan untuk bersekolah harus membantu keluarga untuk mencukupi kebutuhan hidup karena semakin sukarnya akses masyarakat terhadap sumber kehidupan mereka.
Belum lagi bila berbicara pada kualitas pendidikan Indonesia yang hanya berorientasi pada pembunuhan kreatifitas berpikir dan berkarya serta hanya menciptakan pekerja. Kurikulum yang ada dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini sangat membuat peserta didik menjadi pintar namun tidak menjadi cerdas. Pembunuhan kreatifitas ini disebabkan pula karena paradigma pemerintah Indonesia yang mengarahkan masyarakatnya pada penciptaan tenaga kerja untuk pemenuhan kebutuhan industri yang sedang gencar-gencarnya ditumbuhsuburkan di Indonesia.
Sistem pendidikan nasional yang telah berlangsung hingga saat ini masih cenderung mengeksploitasi pemikiran peserta didik. Indikator yang dipergunakan pun cenderung menggunakan indikator kepintaran, sehingga secara nilai di dalam rapor maupun ijazah tidak serta merta menunjukkan peserta didik akan mampu bersaing maupun bertahan di tengah gencarnya industrialisasi yang berlangsung saat ini.
Pendidikan juga saat ini telah menjadi sebuah industri. Bukan lagi sebagai sebuah upaya pembangkitan kesadaran kritis. Hal ini mengakibatkan terjadinya praktek jual-beli gelar, jual-beli ijasah hingga jual-beli nilai. Pendidikan hanyalah bagi mereka yang telah memiliki ekonomi yang kuat, sedangkan bagi kalangan miskin, pendidikan hanyalah sebuah mimpi. Ironinya, ketika ada inisiatif untuk membangun wadah-wadah pendidikan alternatif, sebagian besar dipandang sebagai upaya membangun pemberontakan.
Untuk memahami makna pendidikan sebagai sarana pembentukan karakter, penulis mengutip pesan Prof.Ir.G.Klopper, rektor Sekolah Tinggi Teknik Hindia Belanda (saat ini bernama ITB) ketika memberi gelar insinyur pada Bung Karno, “Ir.Soekarno, Ijazah ini dapat robek dan hancur menjadi abu di suatu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah, bahwa satu-satunya kekuatan yang bisa hidup dan kekal adalah karakter dari seseorang. Ia akan hidup dalam hati rakyat, sekalipun ia telah mati.” (Cindy Adams: 1965)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar